Pengadilan Terakhir


Pengadilan Terakhir adalah tema besar pewartaan para nabi (Ul 7:10; Yoel 3-4; Mal 3:19), dan sang perintis, yakni Yohanes Pembaptis (Mat 3:7-12). Bahkan, Yesus sendiri juga memaklumkan tema Pengadilan Terakhir ini (Mrk 12:40). Pada waktu itu, Yesus akan datang sebagai Hakim (Mat 25:31-33), karena sebagai Penebus dunia, Dia memang memiliki hak definitif untuk mengadili tingkah laku dan hati manusia. Bapa telah menyerahkan wewenang pengadilan itu kepada Yesus (Yoh 5:22). 

 Dalam perjalanan sejarah manusia, orang jahat dan baik tumbuh bersama seperti gandum dan ilalang (Mat 13:24-30). Dalam Pengadilan Terakhir, Kristus datang untuk menentukan kemenangan kebaikan secara definitif atas kejahatan. Secara naluriah, manusiam emiliki pemahaman dasar dalam lubuk hatinya "ini baik" dan "itu buruk", tetapi manusia diberi kebebasan untuk memilih. Disayangkan, jika pilihannya keliru pada kejahatan. Allah tidak pernah menciptakan kejahatan. Allah hanya menciptakan kebaikan, sebagaimana dinyatakan dalam kitab Kejadian, "Allah menciptakan segala yang diciptakan-Nya itu, sungguh amat baik" (Kej 1:31). Maka, kejahatan hanyalah merupakan tiadanya kebaikan, seperti dikatakan oleh St. Agustinus. 

 Materi dalam Pengadilan Terakhir adalah: Pertama, tingkah laku manusia terhadap dirinya sendiri dan sesamanya (Mrk 12:38-40), khususnya mereka yang menderita dan sungguh-sungguh membutuhkan uluran tangan (Mat 25:31-46). Kedua, isi hati yang paling rahasia dari setiap orang (Luk 12:1-3; Rom 2:16; 1Kor 4:5). Ketiga, sikap menolak untuk percaya kepada rahmat yang ditawarkan Allah (Mat 11:20), khususnya kesempatan untuk bertobat dan menutup telinga terhadap Sabda Allah yang disampaikan oleh Yesus Kristus, Sang Hakim (Mat 12:41-42). Keempat, dengan sengaja tak mau mengendalikan lidahnya untuk menyakiti sesama (Mat 5:22). Kelima, kemunafikan (Mat 7:1-5). Keenam, penghujatan kepada Roh Kudus (Mrk 3:29; Mat 12:32), yaitu menyamakan Allah dengan kuasa kegelapan, sikap terang-terangan secara publik dan permanen melawan Allah. 

 Keenam materi Pengadilan Terakhir tersebut bisa dirangkum dalam: Menolak atau menerima cinta kasih terhadap Allah, sesama dan diri sendiri. Hukum cinta kasih menjadi ukuran Pengadilan Terakhir.  

 Sebagai refleksi, mungkin di sini perlu dijelaskan cara mencintai diri secara tepat. Mencintai diri sendiri itu tidak sama dengan egoisme. Egoisme justru menjadi akar segala dosa. Mencintai diri sendiri secara tepat berarti menjaga diri agar selaras dengan maksud penciptaan, yakni baik adanya. Cinta mengandaikan adanya antusiasme konstan dan tetap untuk melakukan yang baik. Cinta adalah bentuk, pengerak dan akar dari segala keutamaan, menuju Allah sebagai Kebaikan Tertinggi. 

 Indikator cinta dapat diamati dari kebaikan-kebaikan moral yang dilakukan seseorang. Moral merupakan "pola" keutamaan yang dihayati manusia. Moral tidak saja mengajarkan yang baik, tetapi juga mendorong secara kuat untuk melakukannya. Dorongan tersebut terungkap dalam antusiasme yang konstan dan tetap untuk menjaga kesucian diri. Itulah yang dimaksudkan St Paulus, ketika dia mengatakan, "Persembahkanlah tubuhmu sebagai kurban yang hidup dan berkenan kepada Allah; itulah ibadahmu yang sejati" (Rm 1:1). 

 Kalau demikian, siapa yang bisa lulus dari Pengadilan Terakhir? Pemazmur menyerukan doa berikut ini, "Jika Engkau menghitung-hitung kesalahan, ya Tuhan, siapakah yang dapat bertahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan" (Mzm 130:3-4a). Allah justru lebih tampak sebagai Allah, jika dipahami dan diimani sebagai Pengampun, bukan Penghukum. 

 Akhirnya, harus dikatakan bahwa belas kasih Allah itu tak terhingga melampaui segala dosa. Belas kasih Allah dan dosa kita itu ibarat lautan dan sepercik api. Lautan belas kasih Allah memadamkan percikan api dosa kita. Maka, kita bisa berseru dalam iman yang teguh, "Ya Allah, aku percaya akan belas kasih-Mu yang tak terhingga." Iman akan belas kasih Allah yang tak terhingga tersebut merupakan inti dari pertobatan dan pengampunan dosa. Di sinilah, jasa Yesus Kristus sebagai Penebus dosa dunia dan Hakim Pengadilan Terakhir terangkum dalam hukum-Nya yang mengagumkan: Cinta kasih! (Sumber: KGK, 678-679)

Oleh Adrian Pristio, O.Carm (Cafe Rohani 2013)

Jumat, 18 November 2016 Hari Biasa Pekan XXXIII

Jumat, 18 November 2016
Hari Biasa Pekan XXXIII
  
“Keheningan adalah bagian dari Liturgi … misteri yang lebih agung, yang melampaui semua kata, mengundang kita dalam keheningan. Keheningan ini haruslah keheningan yang penuh, yang bukan sekedar ketiadaan ungkapan verbal dan bahasa tubuh. Apa yang seharusnya kita harapkan dalam liturgi ialah agar liturgi memberikan kita keheningan yang hakiki, yang positif, yang memulihkan kita. Keheningan yang bukan jeda belaka, yang mana ribuan pikiran dan keinginan menyerang kita, tetapi momen rekoleksi, yang menghasilkan kedamaian batin, membiarkan kita bernafas dan menemukan satu  hal yang perlu … ”  (Kardinal Joseph Ratzinger, The Spirit of Liturgy)

   

Antifon Pembuka (Why 10:9)
    
Ambillah dan makanlah kitab itu. Kitab itu akan membuat perutmu terasa pahit, tetapi di dalam mulutmu akan terasa manis seperti madu.
           
Doa Pagi

 
Allah Bapa kami yang Mahakudus, kami mohon, ajarilah kami berdoa menurut teladan Putra-Mu terkasih. Semoga tingkah laku kami melambangkan hormat, bakti dan syukur kami atas kemurahan hati-Mu yang selalu menghidupi kami. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Wahyu (10:8-11)
     
 
"Aku menerima kitab itu dan memakannya."
    
Aku, Yohanes, mendengar suara dari langit, yang berkata kepadaku, “Pergilah, ambillah gulungan kitab yang terbuka di tangan malaikat yang berdiri di atas laut dan di atas bumi itu”.Maka aku menghadap malaikat itu. Aku minta kepadanya, supaya memberikan gulungan kitab itu kepadaku. Ia berkata, “Ambillah dan makanlah, Kitab itu akan terasa pahit dalam perutmu, tetapi manis seperti madu dalam mulutmu.” Lalu aku mengambil kitab itu dari tangan malaikat dan memakannya. Rasanya manis seperti madu dalam mulutku, tetapi setelah kumakan terasa pahit dalam perut. Maka malaikat itu berkata kepadaku, “Engkau harus bernubuat lagi kepada banyak bangsa, kaum, bahasa dan raja.”
Demikianlah sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.
    
Mazmur Tanggapan
Ref. Betapa manis janji-Mu itu bagi langit-langitku, ya Tuhan.
Ayat. (Mzm 119:14. 24. 72. 103. 111. 131)
1. Aku bergembira atas peringatan-peringatan-Mu, melebihi segala harta.
2. Ya, peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku dan kehendak-Mu menjadi penasihat bagiku.
3. Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku, lebih berharga daripada ribuan keping emas dan perak.
4. Betapa manis janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih manis daripada madu bagi mulutku.
5. Peringatan-peringatan-Mu adalah milik pusakaku untuk selama-lamanya, sebab semuanya itu kegirangan hatiku.
6. Mulutku kungangakan dan mengap-mengap, sebab aku mendambakan perintah-perintah-Mu.
      
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya.
Ayat. (2Taw 7:16)
Tempat ini telah Kupilih dan Kukuduskan. Supaya nama-Ku tinggal di sana sepanjang masa.
      
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (19:45-48)
     
"Rumah-Ku telah kalian jadikan sarang penyamun."
       
Pada waktu itu Yesus tiba di Yerusalem dan masuk ke Bait Allah. Maka mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ. Ia berkata, “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kalian telah menjadikannya sarang penyamun!” Tiap-tiap hari Yesus mengajar di Bait Allah. Para imam kepala dan ahli Taurat serta orang-orang terkemuka bangsa Israel berusaha membinasakan Yesus. Tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!        
  
Renungan

  
Yesus berada di Bait Allah di Yerusalem. Bait Allah adalah "jantung" kehidupan bangsa Israel. Setiap hari orang secara bergantian mengadakan peribadatan kepada Allah di sana. Orang mempersembahkan kurban bakaran, seperti lembu, kambing, domba dan merpati dan kurban-kurban ukupan atau kemenyan. Untuk memudahkan orang mengadakan persembahan di sekitar Bait Allah ada penjual hewan-hewan kurban dan ada penukar uang di sana. Suasana tawar-menawar dan membeli hewan itu mengganggu ketenangan orang dalam berdoa, berelasi dengan Allah. 
 
 Berhadapan dengan keadaan seperti itu, Yesus marah. Yesus menyatakan bahwa Rumah Bapa-Nya adalah rumah doa. Yesus menyatakan Bait Allah adalah Rumah Bapa-Nya. Karena relasi yang personal dan mendalam Yesus dengan Bapa-Nya, Ia menegaskan kembali fungsi Bait Allah untuk tempat berelasi antara manusia dengan Allah Bapa-Nya. Maka, suasana keheningan perlu diwujudkan. 
 
 Dengan ini, Yesus menyadarkan kita pula betapa pentingnya mewujudkan keheningan di dalam gereja. Keheningan merupakan suatu kondisi yang memungkinkan kita berdialog dan bermesraan dengan Allah. Apakah selama peribadatan dalam gereja, sikap dan perilaku kita menciptakan keheningan yang membantu diri kita dan sesama berelasi dengan Tuhan? (FH/Inspirasi Batin 2016)
 
Antifon Komuni (Mzm 118:14,24)
 
Aku bergembira atas peringatan-peringatan-Mu melebihi segala harta. Ya peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku dan kehendak-Mu menjadi penasihat bagiku.